Breaking News

Direktur Jenggala Centre : Golkar Bersih Hanya Slogan


Direktur Eksekutif Jenggala Center, Syamsuddin Radjab menilai Golkar masih terkesan oportunis tanpa ideologi perjuangan yang jelas, dalam menjalankan roda organisasinya.

Syamsuddin menilai rekrutmen atau penempatan kader di pos-pos strategis, lebih kepada perkoncoan alias bukan pada prestasi atau kompetensi.

Hal itu diungkapkannya ketika menjadi salah satu pembicara diskusi publik bertajuk “Menyorot Wajah Golkar Bersih di Bawah Kepemimpinan Airlangga Hartanto” di Jakarta, Senin (19/3). Pelaksana diskusi ini adalah Generasi Muda Partai Golkar (GMPG).

“Dan bukan prinsip prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela (PDLT),” ujar Syamsuddin di hadapan peserta diskusi.

Menurut dia, banyaknya kader Golkar yang dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), baik karena operasi tangkap tangan (OTT) atau hasil penyidikan sejak awal keterpilihan Airlangga sebagai Ketum Golkar, membuktikan bahwa jargon “Golkar Bersih” hanya basa-basi belaka.

"Gak ada tekad kuat mewujudkan tujuan Partai Golkar yang sesungguhnya dan kepengurusan antikorupsi," jelas dia.

“Ditambah dengan banyaknya kader Partai Golkar bermasalah dengan hukum diberikan jabatan strategis dalam kepengurusan yang dipimpinnya,” lanjut dia.

Syamsuddin lantas mencontohkan penunjukan Melchias Marcus Mekeng sebagai Ketua Fraksi Golkar, juga memantik protes keras di kalangan GMPG karena Mekeng diduga terlibat pelbagai dugaan kasus korupsi.

Hal ini dianggap Syamsuddin merusak citra Golkar yang mengusung tagline “Golkar Bersih”.

“Kritik keras itu telah disuarakan dengan lantang oleh GMPG. Sungguh sikap yang berani dan begitulah seharusnya kader muda Golkar sebagai bentuk kecintaan kepada partainya agar lebih baik dan benar. Bukan memelihara kader pragmatis dan opurtunis hanya karena jabatan dan kedudukan,” kata Syamsuddin.

Lebih jauh, Syamsuddin mempertanyakan Airlangga yang tidak berani disebut sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) 2019 yang akan datang.

“Ketika namanya sebut sebagai cawapres di media dengan cepat menyampaikan dan menyangkalnya. Sungguh ironi, partai besar pemenang pemilu kedua kader disebut sebagai cawapres apalagi maju sebagai Presiden,” katanya.

Hal tersebut, kata Syamsuddin berbanding berbalik dengan partai lain seperti PAN atau PKS. Walau perolehan suaranya jauh dibanding Golkar, PAN dan PKS berani mengusung ketua umumnya untuk maju dalam kontestasi Pemilu 2019.

Bahkan PKS menawarkan sembilan kader terbaiknya. “Di sini, bukan soal besar atau kecil, tapi soal nyali pemimpin,” tutup mantan Ketua PBHI ini.

Tidak ada komentar