Breaking News

Koalisi PDIP-Partai Demokrat, Akankah AHY Jadi Pasangan Jokowi ?


Rapimnas partai Demokrat 2018 yang dibuka Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sentul International Convention Center jadi pembicaraan hangat setelah dikaitkan dengan Pilpres2019. Pernyataan SBY kepada Jokowi bahwa partai Demokrat tidak menutup kemungkinan 'berjuang bersama Jokowi' bila Tuhan mentakdirkannya. Tak lupa SBY "memamerkan" kehebatannya memenangkan Pilpres2004 dan 2009 lalu. Konteks "berjuang bersama Jokowi" bisa dilakukan dengan kerangka kebersamaan yang tepat, saling percaya dan saling permanen serta adanya respect dalam koalisi,

Dalam politik, koalisi partai pada pemeritahan tidak ada yang tidak mungkin. Asal saling menguntungkan secara politis maka koalisi sangat mudah terjadi. Pada masa SBY jadi presiden, Partai Demokrat yang memiliki warna politik berbeda dengan PKS bisa bersatu dalam pemerintahan SBY. Persoalan beda ideologi  partai yang bagai bumi dan langit sekalipun bisa dibicarakan demi mencapai tujuan bersama. Ibarat para penumpang mobil travel dengan pengelola travel, bila cocok harga dan sesuai muatan, maka sopir travel pun akan membawa para penumpangnya.

Walau urusan kepentingan dan perbedaaan dokrin partai tak jadi persoalan, namun ada satu hal penting dan tak bisa dilupakan yakni relasi personal para pemimpin partai.  Ini soal non-teknis dan sangat private--yang tadinya bukan milik publik kemudian menjadi milik publik.

Bukan rahasia umum lagi sejarah hubungan pribadi Megawati ketua PDIP dengan SBY ketua Demokrat tak begitu harmonis. Persoalan intrik politik SBY di masa lalu (Pilpres2004) menjadi luka batin Megawati  yang bagai belum terobati hingga sekarang. SBY pada masa itu jadi menteri era pemerintahan Megawati 1999-2004 menjadi orang kepercayaan dan 'anak kesayangan' Megawati.

Konon pak SBY pernah berjanji mendukung penuh Megawati untuk maju jadi Presiden periode ke dua 2004-2009, namun ditengah jalan mengundurkan diri dari kabinet Megawati kemudian pak SBY mendirikan partai Demokrat untuk jadi capres di Pilpres 2004. Dan ternyata pak SBY jadi pemenang mengalahkan Ibu Megawati! Ini menjadi luka batin (catatan pribadi) tak terhapuskan bagi Ibu Megawati yang berpengaruh pada kepemimpinannya dalam berelasi dengan pak SBY selaku ketua partai Demokrat hingga sekarang.

Secara ideologi partai, antara PDIP dan Demokrat relatif sewarna dan sejalan, yakni sama-sama menganut faham Demokrasi dan Nasionalis. Namun demikian, walau sama-sama menganut demokrasi dan mengaku partai modern, model kepemimpinan kedua partai juga sama konvensionalnya dan tidak (belum) demokratis. 

Muncul opini publik bahwa PDIP dan Demokrat layaknya perusahaan (partai) keluarga. Semua keputusan penting, kederisasi atau suksesi tergantung pada otoritas penuh SBY di Demokrat dan Megawati di PDIP. Selain itu adanya faktor trah keluarga. Ini menjadi persoalan yang rumit ketika kepentingan kedua partai bertemu di tingkat elit nasional. Bandingkan model keduanya itu dengan partai Golkar yang juga menganut demokrasi, nasionalis dan modern. 

Dalam partai Golkar, kepemimpinan kolektif benar-benar diterapkan. Suksesi dilakukan murni pada kemampuan kader yang plural,  bukan pada sang ketua atau trah keluarga. Sosok yang jadi ketua partai saat ini tidak berarti yang kelak  suksesi ketua atau petinggi partai jatuh pada anak, istri, keluarga dekat  si mantan Ketua tersebut. Pengaruh ketua partai akan sangat kecil bila tidak lagi menjabat ketua. Suksesi dilakukan berdasarkan aturan periode terbatas  dimana tak ada ketua partai Golkar menjabat seumur hidup! Hal ini yang tidak ada di tubuh PDIP dan Demokrat sampai saat ini.

Model "partai keluarga" seperti PDIP dan Demokrat merupakan sesuatu yang sah-sah saja. Hal itu sudah disadari dan diterima internal kader partai berdasarkan "sejarah internal" pula. Selain itu tidak ada undang-undang yang melarang, atau dilanggar kedua partai tersebut. Namun menjadi penghalang ketika dinamika politik harus bergerak dengan cepat yang membutuhkan cara berpikir baru dalam mensikapi banyak hal, termasuk koalisi dengan partai lain tanpa penghalang faktor non-teknis atau urusan konflik pribadi menahun antar ketua partai.

Asumsi bahwa luka batin politis Ibu Megawati yang dalam begitu terlihat ketika di banyak kesempatan formil dan non-formil kenegaraaan dimana kedua tokoh penting itu diundang. Salah satu--pak SBY atau bu Mega--sering tidak hadir dengan berbagai alasan. Kalau pun kedua tokoh itu pernah "kepentok" hadir dan bersalaman lebih pada kehendak protokoler dan basa-basi politik di ruang publik, bukan sebuah interaksi personal humanistik layaknya kawan lama dalam satu perjuangan di masa lalu. Padahal, untuk menepis anggapan luka bain dan tak harmonisnya relasi personal Megawati-SBY publik awam dan politisi butuh hal tersebut ;  menyaksikan keduanya bercakap-cakap dalam waktu lama, saling tertawa, minum teh bersama atau hadir dibanyak agenda politik dan kenegaraan sebagai tamu yang ditunggu-tunggu kebersamaan dan kemesraannya.

Momen penting teranyar adalah pencabutan nomor urut partai untuk pemilu 2019 bulan lalu tak juga memunculkan hal tersebut. Megawati hadir, tapi pak SBY absen. Hilang lagi momentum politis yang bisa mengkoalikan PDIP dengan Demokrat.

Kerjasama koalisi dalam pilpres antara Demokrat dengan PDIP hanya akan terjadi bila : pertama, telah terjadi rekonsiliasi pribadi antara Ibu Megawati dengan pak SBY. Kedua, bila rekonsiliasi itu tak bisa dicapai, maka koalisi hanya bisa tercapai bila salah satu tidak lagi menjabat ketua partai atau tidak lagi memiliki pengaruh pada keputusan partai. Ketiga, bila salah satu atau keduanya sudah dalam takdir Tuhan sehingga para kader dan elit politik PDIP-Demokrat bisa membentuk  habitus baru dalam berelasi politis.

Rekonsiliasi pribadi Ibu Megawati dan pak SBY bisa terwujud bila kedua pihak mau melakukannya atas dasar kepentingan nasional dan sejarah anak-cucu kelak. Rekonsiliasi pribadi tidak bisa hanya satu pihak saja. Pak SBY tak mungkin datang ke rumah Ibu Megawati dengan membawa bunga dengan konsep "say it with flower"  atau dia bawa gitar untuk menyanyikan lagu karangannya "Harmoni yang Indah" untuk melunakkan hati Ibu Megawati bila tidak ada kode Ibu Megawati "buka pagar" rumahnya. Demikian sebaliknya, Ibu Megawati tak mungkin bikinin nasi pecel untuk pak SBY (seperti dilakukannya pada Gusdur dahulu) bila rumah dan dapurnya tak dibuka.  Heu heuheu...

Melihat karakteristik kedua partai yang konvensional tersebut, hal yang paling mungkin saat ini melakukan rekonsiliasi pribadi antara Ibu Megawati dengan pak SBY terlebih dahulu bila Agus Yudhoyono akan mendampingi Jokowi dalam Pilpres2019. Jika mengharapkan faktor pak SBY atau Ibu Megawati tak menjabat ketua partai dalam waktu dekat rasanya hampir mustahil. Pun jika mengharapkan pada faktor ketiga, yakni Takdir, itu bukan urusan manusia, melainkan Tuhan. Dan kedua faktor terakhir tersebut berkaitan dengan nasib dan Takdir yang pada setelahnya butuh waktu panjang untuk  konsolidasi dan reposisi pada masing-masing internal partai Demokrat maupun PDIP.

Pernyataan pak SBY pada pembukaan Rapimnas 2018 partai Demokrat bahwa "kemungkinan berjuang bersama Jokowi bila Tuhan mentakdirkannya dapat diartikan dua hal.

Pertama,  sebagai basa-basi politik tingkat tinggi untuk menyenangkan dan menenangkan para kader dan pendukungnya saat ini. Dimana kelak akan ada manuver yang jauh dari pernyataan tadi. Dengan pernyataan itu, sejak awal SBY dan demokrat ingin mengambil simpati publik masaa mengambang atau pemilih baru bahwa dia dan Demokrat "baik-baik saja", punya empati, etika, sopan-santun selaku tuan rumah acara dimana Jokowi sebagai tamu kehormatan merupakan lawan politiknya hadir secara terhormat.

Kedua, sebagai sebuah "kode' awal rekonsiliasi pribadi pak SBY untuk  Ibu Megawati.  Tinggal menunggu apakah Ibu Megawati mau buka pagar rumahnya. Pak SBY tak bisa hanya sebatas mengirim "kode" namun juga perlu pro aktif dengan punya nyali besar dan jiwa gentleman mewujudkannya dalam langkah lebih lanjut.

Bisa tidaknya AHY menjadi cawapres Jokowi saat ini ;  untuk tahap pertama bukan ditentukan oleh takdir, tapi oleh nasib. Nasib itu harus diusahakan SBY dan Megawati.

Nasib tak akan berubah kalau individu dan kebersamaam tidak diusahakan secara tepat. Nasib tak akan berubah kalau hanya sekedar lips service politik. Bila kemudian segala upaya mengubah nasib tak juga berbuah hasil, maka itu adalah ruang takdir. Dan konteks 'takdir' adalah otoritas Tuhan, bukan sekedar  lips service politis.

Tuhan mungkin paham dinamika politik kontemporer Indonesia. Kerapkali Tuhan diseret-seret dalam kancah dinamika politik negeri ini. Kalau rekonsiliasi pribadi Ibu Megawati- pak SBY bisa terwujud, maka Tuhan akan tersenyum tanpa lebih jauh dilibatkan dalam politik. Tuhan  tersenyum pada usaha perbaikan nasib yang dilakukan SBY-Megawati, bukan ketergantungan mereka pada takdir. 

Seorang Agus H. Yudhoyono (AHY) saat ini memiliki kapasitas, popularitas dan kapabilitas menjadi pemimpin. Dia aset negara yang mumpuni saat ini dan masa depan. Sebaiknya dia tidak terlibat dalam keberpihakan lebih jauh dalam konflik pribadi pak SBY dengan Ibu Megawati. Bahkan kalau perlu secara formil dan non-formil membangun komunikasi dengan Ibu Megawati lewat berbagai agenda.

Dia datang sebagai orang muda atau anak yang independen sebagai sosok kader politik umumnya. Bagi AHY,  menjadi calon wakil presiden hanya masalah waktu dan nasib,  yang kali iini ditentukan usaha pak SBY dan Ibu Megawati  membangun rekonsiliasi pribadi. Bisa jadi setelah era orang tua, dia akan lebih punya peluang lebih besar lagi.

Saat ini jalan menjadi wapres Jokowi  sebenarnya pendek tapi medannya sulit, Gus...

Tidak ada komentar