Breaking News

Masih Jadi Pilihan Utama, Telkomsel Tak Ikut Perang Tarif


Kinerja keuangan akhir tahun emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia sudah mulai marak diumumkan. Salah satu emiten yang sudah mempublikasikan kinerja keuangannya adalah Telkom.

Andri Ngaserin, Head of Research Bahana Sekuritas, menjelaskan keuangan Telkom dari sepuluh tahun yang lalu hingga saat ini masih merupakan yang terbaik dibandingkan emiten telekomunikasi lainnya.

Ini dibuktikan dengan gearing ratio perusahaan BUMN tersebut. Dengan gearing ratio yang masih sangat rendah, kemampuan Telkom melakukan ekspansi usaha di masa mendatang masih terbuka luas.

Selain masih memiliki kemampuan ekspansi, Telkom merupakan satu-satunya perusahaan telekomunikasi yang memiliki jaringan fiber optik yang paling luas di Indonesia.

Luasnya jaringan fiber optik yang dimiliki oleh Telkom membuat jaringan anak usahanya yang terjun di bisnis seluler, yaitu Telkomsel, masih menjadi terbaik di Indonesia.

"Hingga saat ini jaringan seluler Telkomsel masih yang terbaik di Indonesia. Ini dibuktikan dengan data dari open signal," papar Andri dalam paparannya, Rabu (21/3/2018).

Sebenarnya, bukan hanya open signal yang mendaulat Telkomsel menjadi yang terbaik. Dalam laporan yang dibuat nPerf, salah satu penyedia layanan penguji kecepatan internet yang cukup populer, Telkomsel juga diklaim sebagai operator seluler yang performa internetnya paling bagus selama 2017.

Selain memiliki gearing ratio yang masih rendah, revenue, EBITDA, dan net income Telkom di tahun 2017 juga masih membukukan pertumbuhan yang sangat baik, yaitu masing-masing 10,2%, 8,6%, dan 14,4%. Tumbuhnya revenue, EBITDA, dan net income Telkom ini juga di atas rata-rata emiten sektor telekomunikasi yang melantai di Bursa Efek Indonesia.

Andri menilai tumbuhnya kinerja keuangan Telkom tersebut tak lepas dari kinerja Telkomsel yang terbilang moncer. Revenue, EBITDA and net income Telkomsel pada 2017 masih dapat tumbuh. Revenue tumbuh dari Rp 86,725 triliun menjadi Rp 93,217 triliun atau mengalami kenaikan 7,5%.

EBITDA Telkomsel tumbuh dari Rp 49,781 triliun menjadi Rp 53,592 triliun atau naik 7,7%. Net income Telkomsel juga mengalami peningkatan dari Rp 28,195 triliun menjadi Rp 30,395 triliun atau naik 7,8%.

Pertumbuhan yang dibukukan oleh Telkomsel terbilang sangat baik. Bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, yang hanya 5,07% YoY pada 2017 maupun prediksi pertumbuhan industri telekomunikasi, yang hanya naik 6,7%.

Diakui Andri, memang pendapatan Telkom dan Telkomsel dari bisnis legacy, yaitu SMS maupun voice, mengalami penurunan. Namun penurunan tersebut dapat ditutup dengan melonjaknya pendapatan dari layanan data Telkomsel yang sangat tinggi. Kontribusi digital business Telkomsel naik dari Rp 30,69 triliun menjadi Rp 39,466 triliun atau tumbuh 28,7%.

"Memang tren di seluruh perusahaan telekomunikasi dunia sama, yaitu perpindahan dari voice dan SMS ke layanan data. Saya optimistis pendapatan Telkomsel dari layanan data masih akan terus tumbuh seiring perubahan tren masyarakat yang lebih memilih menggunakan layanan OTT," kata dia.

Ikut Perang Tarif?

Pengamat pasar modal ini berharap Telkomsel tidak ikut dalam perang tarif layanan data. Sebagai market leader, memang Telkomsel memiliki kemampuan untuk melakukan perang harga. Namun hingga saat ini, langkah perang harga tak dilakukan Telkomsel.

"Saya melihat Telkomsel tidak ikut dalam perang harga layanan data. Saya berharap strategi tersebut dapat terus dipertahankan agar tidak mengganggu kinerja keuangan Telkom," masih kata Andri.

Seperti diketahui, selama dua tahun terakhir industri telekomunikasi nasional diwarnai dengan perang tarif layanan data dan suara. Contohnya, kata Andri, ada salah satu operator menawarkan layanan data Rp 1.000 untuk setiap GB.

Selain berpotensi mengganggu kinerja keuangan Telkom, masih menurut analisis dia, jika Telkomsel ikut perang harga, akan berdampak langsung pada cash flow perseroan. Jika cash flow terganggu, akan berdampak pada lanjutan investasinya.

"Jika perusahaan telekomunikasi tak memiliki kemampuan lagi melakukan investasi, bisa dipastikan mereka tak bisa mengikuti tren teknologi yang terjadi," pungkas Andri.

Tidak ada komentar