Breaking News

Politisi Golkar Ingin Debat Pilgub Sulsel Hanya Sekali


Makassar – Usulan DPRD Sulsel agar debat kandidat Gubernur Sulsel hanya digelar sekali dari rencana tiga kali, bakal menciderai hak rakyat untuk mendapat pemimpin berkualitas. Alasan penghematan biaya dinilai tak masuk akal.

Rencana pemangkasan debat kandidat mencuat saat dilakukan rapat kerja antara Badan Anggaran DPRD dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah, di DPRD Sulsel, Kamis (15/3/2018).

Menurut Ketua Banggar Fachruddin Rangga, jika debat kandidat gubernur dilakukan berulang akan menghabiskan anggaran cukup besar. “Hanya saja bila dilakukan berulang-ulang akan rentan konflik dan boros anggaran,” kata anggota Fraksi Golkar itu.

Masih menurut Fachruddin, debat kandidat tiga kali juga mubazir. "Saya pikir satu kali saja, yang penting sampai pesannya, kapan dilakukan, di mana, dan jam berapa. Masa harus mengulangi hal-hal yang sama," kata Fachruddin.

Pernyataan Fachruddin tentu saja janggal, mengingat KPU Sulsel telah merencanakan debat kandidat sebanyak tiga kali dengan tema yang berlainan. Pertama 29 Maret bertema ‘Pemerataan dan Kesejahteraan Ekonomi’. Debat kedua bertema ‘Pembangunan Orientasi Pada Pelayanan Publik’ pada 19 April. Debat ketiga ‘Kearifan Lokal’ pada 9 Mei.

Rencana DPRD Sulsel bertentangan dengan pendapat Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah yang justru menyarankan KPU memperbanyak debat kandidat. “Karena sudah saatnya para kandidat berintegrasi dengan publik lewat debat. Bukan lewat kampanye monolog,” kata Fahri Hamzah, Selasa (9/1/2018).

Menurut Fahri, melalui debat kandidat akan terlihat mana calon yang jago mengumbar janji-janji dan mana yang memiliki integritas dan bisa kerja. “Sebab dalam kampanye monolog selama ini, para kandidat cenderung mengumbar janji kepada rakyat agar memilihnya. Namun begitu menang dan berkuasa, janji tinggal janji,” sindirnya.

Bahkan menurut Fahri debat kandidat justru menghemat biaya. Selain publik bisa memahami pemikiran dan gerak langkah dari program kandidat. “Apalagi salah satu alasan Pilkada Serentak, juga Pilpres dilaksanakan adalah untuk menekan biaya. Makanya ruang perdebatan dan dialog antar kandidat perlu ditingkatkan,” tambahnya.

Sementara itu, Tim Media Prof Andalan Khaeruddin Norman juga menyayangkan rencana memangkas debat kanidat gubernur dari tiga kali menjadi satu kali.
“Jangan kebiri hak rakyat untuk mendapatkan pemimpin berkualitas. Rakyat berhak memilih pemimpin terbaik berdasarkan pemaparan program dan adu argumentasi dalam debat kandidat. Rakyat pasti bisa menilai mana yang punya konsep dan bisa kerja, atau mana yang sekedar umbar janji,” ujar Elu, sapaan akrabnya.(*)

Tidak ada komentar