Breaking News

Suku Bugis Makassar Dalam Sejarah Prancis


Kisah ini diambil dari catatan Claude de Forbin seorang ksatria Prancis, yang dikirim ke Siam (sekarang Thailand) oleh Raja Louis XIV, dengan misi yang amat ambisius dalam hal politik, agama, ilmu, pengetahuan dan ekonomi.

Claude de Forbin adalah perwira dan penulis naskah yang sekaligus menjadi pelaku dan saksi hidup dari satu “tragedi” yang melibatkan sekumpulan orang-orang Makassar yang saat itu ada di pengungsian di negeri Siam atau kerajaan Ayuthaya.

Kisah luar biasa yang sangat jarang dipublikasikan

Kisah ini bermula di abad 17 , tepatnya tahun 1664, sebanyak kira-kira 250 orang Makassar (laki-laki, perempuan dan anak-anak) berlayar meninggalkan tanah Gowa dan tiba di kerajaan Siam/Ayuthaya dan diberikan hak dan membangun komunitas perkampungan bersebelahan dengan orang-orang Melayu yang sudah lebih dulu menetap.
Orang Makassar berlayar dengan Perahu Pinisi

Seorang pangeran Makassar (Gowa-Tallo) bernama I Yandulu Daeng Mangalle Sebagai salah satu putra dari Sultan Hasanuddin, yang setelah dikalahkan Belanda dan tidak setuju ditandatanganinya Perjanjian Bungaya oleh ayahandanya, pergi ke Siam dan meminta suaka kepada Raja Siam.

Permintaan suaka tersebut dikabulkan oleh Raja Narai. Bukan hanya diberi suaka, Daeng Mangalle (Lidah Perancis menyebutnya Daen Ma-Alee) beserta para pengikutnya diberikan tempat di ibukota raja yang kelak dikenal sebagai Makkasan. 

Akan tetapi keadaan yang damai dan harmonis di Siam waktu itu tidak berlangsung lama, karena seringnya terjadi intrik dan perebutan kekuasan dalam lingkungan keluarga dan kerabat istana. Tidak terkecuali Phra Narai raja dari kerajaan Ayuthaya dulunya juga adalah seorang yang merebut kekuasaan dengan cara kekerasan dan berdarah, sehingga ia sadar betul bahwa kekuasaanya tidak berakar dan tidak kuat dukungannya sehingga ia akan gampang pula digulingkan, karena itulah ia mempercayakan pertahanan kerajaannya pada serdadu Prancis yang kala itu sedang berada di Siam atas perintah Raja Prancis. Serdadu Prancis dipimpin oleh Claude de Forbin dengan 6 kapal dan satu detasemen militer yang beranggotakan 636 orang.

Situasi Kerajaan Siam pada saat itu memang sedang kacau, legitimasi dari Raja Phra Narai sedang terancam kudeta dan pemberontakan. Termasuk beredarnya rumor tentang adanya "persekongkolan" dari bangsa imigran Melayu yang Muslim dengan pihak oposisi yang ingin mengkudeta sang Raja.
Daeng Mangalle yang diduga terlibat dengan konspirasi Melayu, Campa, Makassar dan orang Islam lain di Siam, konspirasi ini akan berencana menyerang istana dan membunuh raja Siam Phra Narai, karena Raja dianggap telah melenceng yaitu menempatkan kepercayaan pada orang asing yaitu Prancis dan Misi orang asing mengembangkan agama baru kemungkinan lebih buruk lagi Raja akan berpindah memeluk agama baru.

Rupanya konspirasi ini sudah tercium oleh sang raja, sehingga dengan cepat Phra Narai memperkuat pertahanan istananya dengan menempatkan pasukan Prancis tersebut serta meminta dukungan dari orang asing lainnya.

Daeng Mangalle menolak meminta pengampunan dari Raja dan menyangkal keterlibatannya dalam persekongkolan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa dengan gelarnya sebagai Pangeran Makassar, ia tidak mungkin bertindak sebagai pengadu tapi lebih suka bertempur dengan teman-teman setanah airnya, terbunuh secara terhormat dan membawa mati rahasia yang boleh jadi dia tahu mengenai komplotan itu.

Daeng Mangalle berujar kepada Raja : 
"Mengenai orang yang telah menghadap Paduka , saya harus katakan bahwa saya tidak mempercayainya sedikitpun, karena sekarang ini Perdana Menteri ialah orang Prancis, dan antara saya dan dia ada saling benci dengan alasan perbedaan agama."

Akibatnya selama satu bulan, wilayah Kampung Makasssar, dikepung oleh pasukan Siam, tetapi Raja mulai kehilangan kesabaran dan akhirnya memutuskan menggunakan kekuatan Militer untuk memerangi masyarakat Makassar.

Karena menolak akhirnya raja memerintahkan Forbin untuk mengepung kapal-kapal orang Makassar yang berniat meninggalkan Siam. Kontak senjata pertama terjadi 40 orang Makassar menghadapi serdadu Prancis dan Portugis dimana orang-orang Makassar menyerang mereka dengan mengerikan mengejar pasukan Prancis dan Portugis sejengkal demi sejengkal tanah yang dilewati menjadi ladang pembantaian, wanita, anak-anak semua dibunuh tanpa kecuali. Enam orang Makassar menyerang Pagoda dan membunuh biawarawan disana, tercatat pasukan Eropa-Siam kehilangan 366 orang dan belum lagi korban penduduk sipil.

Forbin yang memimpin pasukan garnisun Prancis di Benteng Bangkok menerima perintah Raja untuk memblokir dua tempat keberangkatan perahu Makassar yang berniat meninggalkan kerajaan Siam dan mengumpulkan kembali awak kapalnya. 

Muslihat yang disodorkan oleh Forbin adalah "berpura pura menggeledah kapal dengan alasan keadaan darurat yang melanda negara dan dengan dalih mencari orang yang dianggap buronan Siam, melucuti dan menghentikan semua awak kapal, menurunkan mereka ke darat, membawa ke benteng dan memenjarakan mereka disana." 

Seuntai rantai yang direntangkan melintasi sungai mengharuskan satu delegasi yang terdiri dari enam orang Makassar datang bermusyawarah dengan prajurit Prancis tapi mereka menolak keras 'keris/badik' mereka dilucuti dan disita. 

Seorang perwira tua Portugis yang bergabung dalam pasukan Prancis mengingatkan Forbin, "Orang-orang itu tidak dapat ditundukkan, oleh karena itu kita harus membunuh mereka untuk menguasai mereka. Terus terang saja, jika Anda sampai ketahuan ingin menangkap kapten yang berada di dalam anjungan itu, dia dan sedikit orang yang bersamanya akan membunuh kita semuanya dan tidak membiarkan seorang pun hidup."

Forbin mengira ia cukup dikawal oleh dengan sepuluh prajurit Siam yang bersenjatakan tombak dan sepuluh prajurit lainnya dengan bedil untuk memeriksa enam orang Makassar yang hanya bersenjatakan badik.

"Saya memerintahkan seorang pejabat Siam untuk pergi menyampaikan kepada kapten Makassar bahwa saya merasa tersiksa karena dapat perintah untuk menangkapnya, tetapi ia akan dapat perlakuan baik dari saya. Saat kata pertama terlontar dari mulut pejabat Siam, sambil mencampakkan topi kain mereka ke tanah , keenam orang Makasssar itu menghunus 'keris'(badik) dan menyerbu membabi-buta seperti kesurupan, membunuh seketika itu pejabat Siam dan enam orang rekannya yang ada dalam paviliun."

Forbin sendiri lolos dari maut. Empat orang Makassar terbunuh, sementara dua lainnya terluka dan kapten mereka berhasil lolos. 

Kontak kedua terjadi lagi saat tanggal 23 September 1686, raja memerintahkan serangan besar-besaran ke perkampungan orang Makassar. Akhirnya prinsip orang Bugis-Makassar menghadapi tantangan “Sekali Layar Berkembang Pantang Surut Kebelakang” menyadari bahwa sudah tidak ada kemungkinan lain selain bertempur sampai mati,dan setelah menyadari mereka tak akan memenangkan pertempuran, banyak diantara mereka terpaksa membunuh istri dan anak-anaknya untuk menghindarkan keluarga mereka dari perbudakan dan di perkosa. Beberapa kali pasukan Siam harus mundur menghadapi perlawanan orang Makassar yang sangat berani dan nekat.

Bahkan seorang saksi Sejarah Peristiwa ini menuliskan kekaguman mendalam terhadap Orang-Orang Makassar, Belum pernah ia melihat ada bangsa yang seberani Bangsa Makassar, ia melihat Orang Makassar itu sudah terkapar bersimbah darah dan di Injak- injak oleh tentara Siam dan Perancis, tetapi dengan seketika Orang Makassar yang sudah terkapar dan bersimbah darah itu Bangkit dan Membunuh dua Orang tentara Perancis yang ada di dekatnya, lalu kemudian ia mati perlahan-lahan.
"Tuan Beauregard, kapten berkebangsaan Prancis , ketika melihat bahwa kapten Makassar itu tertembak beberapa peluru dan sekarat, melarang sersannya untuk membunuhnya. 
Ia mendekati kapten itu dan merampas 'keris'nya. 

Tapi Beauregard nenarik sarungnya, bukan gagangnya dan kapten Makassar yang nyaris mati itu masih punya cukup kekuatan menghunus keris/badik dan merobek perutnya,"

Forbin memanggil bala bantuan pasukan yang terdiri dari enam puluh orang Portugis yang dipimpin oleh seorang kapten berkebangsaan Inggris yang tanpa menunggu perintah Forbin membawa pasukannya maju melawan orang-orang Makassar.

Segera saja ke empat puluh tujuh orang Makassar yang sampai saat itu jongkok dengan cara mereka, tiba-tiba bangkit dan dengan melingkari tangan kiri mereka dengan sejenis kain selempang yang biasanya mereka lilitkan dipinggang atau dikepala , mereka menerjang orang Portugis dengan keris di tangan, kepala menunduk dan dengan kekuatan besar menikam dan mencabik-cabik orang-orang Portugis, nyaris sebelum kami (Forbin).

Sadar bahwa mereka sudah diserang. Dari situ mereka mendesak kearah pasukan yang saya pimpin tanpa kehabisan nafas, meski saya memiliki seribu lebih prajurit bersenjatakan tombak dan bedil, Orang-orang mengerikan itu menyerang pasukan saya sedemikian rupa sehingga semuanya terjungkal. Orang-orang Makassar itu bergerak dengan menginjaki perut mereka dan membunuh semua yang dapat mereka jangkau, benar-benar pembantaian yang mengerikan.

Dalam keadaan yang kalang kabut itu, mereka mendesak kami hingga ke kaki tembok benteng baru. Enam diantara mereka, yang paling nekat, mengejar pasukan yang kabur dan masuk kedalam teluk buatan yang menghadap sungai dekat tembok benteng kecil persegi empat. Mereka melewati benteng di sisi lain dan menjadikan semua tempat itu pembantaian yang mengerikan, dengan membunuh tanpa memandang usia dan jenis kelamin, wanita, anak-anak dan semua yang ada di hadapan mereka.
Sementara itu Orang-orang Makassar yang merupakan bagian terbesar pasukan mereka kembali ke kapal untuk mencari tombak dan perisai sekaligus menyalakan api dikapal untuk menunjukkan ketetapan hati mereka untuk bertempur. Mereka menyusuri tepian sungai , melempari rumah-rumah dengan api, menebarkan terror dimana-mana. 

Enam orang Makassar menyerang Pagoda dan membunuh semua biarawan di sana, lalu bersembunyi di balik rerumputan tinggi , dimana mereka dihalau dan dirubuhkan dengan bedil. Dalam pertempuran itu saja, pasukan Eropa-Siam telah kehilangan 366 orang belum lagi korban penduduk sipil, sedangkan korban di pihak Makassar hanya tujuh belas orang.

Selama tiga minggu orang-orang Makassar itu terkepung di tengah hutan yang digenangi air pasang dan hanya keluar sebentar untuk mencari makanan berupa sayuran dan buah-buahan di kebun disekitarnya. Forbin berpikir bahwa saatnya telah tiba memberikan pukulan terakhir, karena mereka mustahil dapat merawat luka-luka mereka dan tentu sangat lemah.

Hanya tersisa tujuh belas orang yang selamat dari orang Makassar, Forbin mengepung hutan dengan dua ribu prajurit Siam. Ia mengusulkan kepada orang Makassar itu untuk menyerah, tetapi mereka "melompat kedalam air dengan keris di mulut, mereka berenang untuk menyerang kami, Orang-orang Siam yang mendapatkan keberanian dari pidato dan contoh yang saya tunjukkan, melepaskan tembakan ke arah orang-orang yang putus asa itu, sehingga tak ada satu pun yang selamat. Demikianlah akhir petualangan menyedihkan, yang selama satu bulan membuat saya luar biasa lelah, nyaris kehilangan nyawa serta menyebabkan saya membunuh begitu banyak orang."

Sementara itu, 23 September 1686, di Ayuthaya tiga puluh hingga empat puluh orang Makassar yang sudah jadi penduduk setempat diundang ke Istana untuk bermusyawarah tapi sekali lagi menolak menanggalkan keris mereka dan senjata lain sebelum menghadap raja. Dengan mudah menduga niat pihak kerajaan, mereka pun menolak dilucuti sebelum pembicaraan dimulai. 

Kapten mereka, Daeng Mangalle tetap saja berpura-pura tidak bersalah dan tidak merasa perlu meminta pengampunan dari raja, karena sebelumnya telah diberi tahu mengenai komplotan itu tapi tidak mengambil bagian secara langsung di dalamnya, kapten itu hanya dituduh bersalah karena tidak memberi tahu raja.

Kehormatan mencegahnya untuk bertindak sebagai pengadu dan sebagai mata-mata terhadap teman-temannya seagama.  Di malam 23 September  raja nemerintahkan beberapa ribu prajuritnya mengepung 'Kampong Makassar' di Ayuthaya, diperkuat dengan dua Kapal Perang, dua puluh dua kapal dayung dan enam puluhan kapal kecil yang menyeberangi sungai. 

Melihat persiapan itu, orang-orang Makassar paham bahwa serangan sudah dimulai. Semua tahu tidak ada kemungkinan lain untuk mereka kecuali bertempur sampai mati dan banyak diantara meraka membunuh isteri dan anak-anak mereka sendiri agar terhindar dari penjara dan perbudakan.

Tanda serangan diberikan jam 4,30. 

Serangan pertama gagal dan sebagian besar penyerang tewas . Kapten Inggris, Coates yang memimpin kapal perang Siam, setelah melemparkan bola-bola api untuk membakar rumah-rumah, mengira telah berhasil menaklukkan semua perlawanan dan mencoba mendarat dengan sekitar selusin orang Inggris dan seorang perwira Prancis. 

Orang-orang Makasssar menggali parit untuk perlindungan dan keluar dari situ untuk melancarkan serangan balasan. 

Coates mendapat hantaman di kepalanya hingga terlempar ke air dan karena berat baju zirahnya, ia tenggelam. Sementara itu perwira Prancis tadi selamat karena bisa berenang. Bala bantuan dari orang-orang Makassar datang dan bergerombol diantara pepohonan bambu sebelum keluar lagi untuk menggempur habis-habisan di bawah pengaruh, tulis Pastor Tachard , gumpalan-gumpalan candu "yang membuat mereka mengamuk dan melenyapkan semua pikiran dan keinginan lain kecuali membunuh atau dibunuh" . 

Pasukan Siam sekali lagi harus mundur dan menunggu bantuan baru dari empat ratus orang.
Pasukan Siam berjumlah tiga ribu prajurit yang didahului dengan delapan ratus 'mousquetaires' (prajurit bersenjatakan bedil). 

Forbin menjelaskan suasana serangan dan taktik yang diterapkan untuk gerak maju pasukan-pasukan itu : " Karena wilayah itu terendam sehingga orang terpaksa berjalan didalam air setinggi separoh tungkai, jenderal Siam disuruh membuat jaringan kisi-kisi yang terdiri dari bilah-bilah kayu yang masing-masing dipasangi tiga paku sebagai ranjau. Peralatan ini yang bergerak didepan pasukan, dibenamkan kedalam air ......Orang Makassar seperti biasanya maju menyerang dengan kepala tertunduk dan tanpa melihat dimana kaki berpijak, lantas sebagian besar terjebak hingga tidak bisa maju maupun mundur.  Kami lalu membunuhi banyak diantara mereka dalam keadaan berdiri dengan berondongan bedil. Kami terus menghalau musuh dari satu pemukiman ke pemukiman lainnya, setelah membakarnya terlebih dahulu.  Kami mendengar jerit mengerikan para wanita yang terbakar dalam rumah mereka. Mengenai yang pria, mereka baru keluar pada saat terakhir dan menyerang membabi-buta dengan senjata tajam guna bertempur sampai mati.  Putra sulung Daeng Mangalle yang masih berusia 14 tahun melihat ayahnya terkapar di tanah, melemparkan senjatanya ke kaki menteri yang membiarkan anak itu hidup.  Akhirnya pertempuran itu berakhir jam tiga siang dengan menyerahnya 22 orang Makassar dan 33 mayat prajurit mereka dikumpulkan dari medan pertempuran . 

Daeng Mangalle sendiri terluka dengan lima tusukan tombak dan setelah tangannya tertembak langsung menerjang menteri Siam dan membunuh seorang Inggris. 

Selama dua atau tiga hari, kami memburu mereka yang masih hidup. Orang-orang Siam tidak memberi ampun pada tawanan mereka. Kebanyakan mereka disiksa dengan kejam : pasak ditancapkan menembus kuku, tangan dibakar, pelipis dijepit dengan dua papan, sebelum diikat di tiang untuk santapan harimau. 

Tachard menambahkan bahwa orang-orang yang memegang senjata ditangan mereka dipenggal dan kepalanya dipamerkan di depan rakyat jelata.  Beberapa dari mereka dikubur hingga leher, lalu mati setelah dicemooh dan dihina penonton yang tidak punya belas kasihan. Sementara anak-anak dan wanita, yang tidak terbunuh dalam penyerangan atau terbakar dalam rumah, dijual sebagai budak."
Peristiwa di Siam ini benar-benar membuat penduduk setempat kagum akan keberanian kenekatan orang-orang Makassar menghadapi tentara yang berjumlah ribuan dengan senjata lebih lengkap sementara orang Makassar hanya bersenjatakan tombak dan badik, selama pertempuran itu 1000an orang Siam dan 17 orang asing tewas mengenaskan.

Tachard mengabadikan  gugurnya Daeng Mangalle bersama prajurit Makassar dalam sebuah catatannya. Menurut sang pastor keberanian tentara Makassar hampir-hampir tidak masuk di akal.
Pastor itu menulis, seumur hidupnya, baru pertama kali menyaksikan keberanian manusia yang dikenal sebagai prajurit Makassar. Saat itu, seorang prajurit Makassar yang telah membunuh tujuh tentara Perancis, akhirnya berhasil dilumpuhkan dengan tembakan dan tikaman bayonet bertubi-tubi. Seorang tentara Perancis menendang-nendang kepala prajurit Makassar yang tengah menghadapi sekaratul maut itu. Tiba-tiba saja prajurit Makassar itu bangkit lalu membunuh tentara yang menendang-nendang kepalanya itu, kemudian dia pun mengembuskan nafasnya yang terakhir. “Tak ada alasan lain yang membuat prajurit itu mendapatkan kembali kekuatannya, selain karena mempertahankan harga diri dan keberanian (Siri’ na Pacce/Semboyan orang Makassar),” tulis sang pastor.

Kekaguman Raja Siam terhadap keberanian Daeng Mangalle, menjadikan dua putranya, yakni Daeng Tulolo dan Daeng Ruru, diampuni Raja Siam dan dibawa oleh Kapten tentara Perancis menghadap raja dan menetap di Perancis. Mungkin karena iba, kantor perwakilan dagang Prancis di Siam memberi kesempatan kedua pangeran malang itu untuk belajar ke Prancis. Pada masa itu pendidikan militer untuk anak lelaki telah menjadi tradisi kebanggan kerajaan-kerajaan Nusantara.
Saat itu pelayaran ke Eropa sungguhlah lama. Keduanya berlayar dengan kapal Coche menuju Eropa pada akhir November 1686, dan baru berjejak di Prancis pada September 1687.

Setelah dibaptis, mereka mendapatkan nama kehormatan—bak Raja Prancis. Daeng Ruru bergelar Louis Pierre de Macassar, sementara saudaranya Daeng Tulolo mendapat gelar Louis Dauphin de Macassar.

Sebagai anak dari tanah seberang benua dan samudra, keduanya mendapat pengajaran bahasa Prancis di kolose jesuit Louis le-Grand. Lembaga sekolah yang didirikan akhir abad ke-16 tersebut, hingga kini masih mengajarkan nilai tradisi Prancis dan mempertahankan tradisi keterbukaan terhadap dunia luar. Setidaknya sepersepuluh dari siswanya selalu berasal dari penjuru dunia. 

Setelah lulus dari kolose jesuit itu mereka diterima di sekolah tinggi Clermont yang bergengsi. Kemudian, keduanya mendapat rekomendasi dari Louis XIV untuk melanjutkan ke sekolah perwira angkatan laut yang tersohor sebagai perintis sekolah marinir di Prancis. Salah satu syarat untuk diterima menjadi kadet adalah si calon harus berusia di bawah 18 tahun dan berasal dari keluarga ningrat.

Karir marinir Daeng Ruru meroket. Dia lulus tercepat dengan menempuh sekolah selama dua tahun. Pangkatnya letnan muda pada usia 19 tahun—setara letnan di angkatan darat. Setahun kemudian dianugerahi pangkat letnan angkatan laut, setara kapten di angkatan darat.

Bantuan keuangan sungguh diperlukan, lantaran Ruru tak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga uang. Konon untuk mencapai prestasi gemilang macam itu, orang harus cerdas dan berharta. Daeng Ruru berhasil karena itu. Tapi anehnya, pada 1706, Louis Pierre Makassar (Daeng Ruru) tak diajak ikut dalam operasi angkatan laut ketika itu. Ia mengirim surat keluhan kepada de Pontchartain, menteri kelautan kerajaan. Protes.

Tak seperti kakaknya yang berkarir melejit, Daeng Tulolo harus menanti 13 tahun lamanya untuk mendapatkan pangkat letnan muda.

Masa-masa keemasan kedua ningrat itu kian mendekati akhir. Pada 1707, Daeng Ruru bertugas di sebuah kapal yang menyergap kapal-kapal militer Belanda dan membantu armada Spanyol untuk memerangi Inggris di Havana. Ironisnya, Pada 19 Mei 1708 Daeng Ruru tewas di depan Havana setelah bertempur Habis-habisan.

Sementara itu, Daeng Tulolo yang karirnya mentok berpangkat letnan muda, melanjutkan dinasnya di sebuah kapal India. Dia wafat 30 November 1736 pada usia 62 tahun, ia dibawa ke gereja Carmes di kota itu untuk disemayamkan dengan dihadiri beberapa perwira angkatan laut. Ia dikubur dalam gereja Louis de Brest. Jenazahnya hancur ketika terjadi pemboman saat perang dunia II.. Beberapa kolega angkatan laut menghadiri penghormatan terakhir kepada Sang Louis Dauphin Makassar. Suatu kehormatan, keturunan raja-raja Makassar itu dimakamkan di tempat terhormat dalam Gereja Saint-Louis de Brest, barat laut Prancis.

Demikianlah kisah dua bangsawan asal Tanah Daeng yang mengembara hingga ke Prancis. Tampaknya hubungan antara orang Prancis dan orang Indonesia sudah terjalin sejak ratusan tahun silam.

Konon, mereka inilah kakek moyangnya si Napoleon Bonaparte. Dan, itulah sebabnya, Napoleon itu kecil dan tidak tinggi. Juga, menurut buku ini kedua cucu Sultan Hasannudin itulah yang mengenalkan Perancis dengan binatang kesayangan ayam jago. Sama persis dengan ayam jagonya Sultan Hasanudin. 

Luar biasa ya sejarah kita, ini bukan cocoklogi tapi fakta sejarah yang sangat jarang diketahui, bangga jadi tu Mangkasara’, bangga jadi tu Gowa… 


(Sumber: Bernard Dorleans, " Orang Indonesia dan Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan Abad XX).

Tidak ada komentar