Breaking News

Tradisi Omed-Omedan, Dari Pengikat Persaudaraan Hingga Pertemuan Jodoh


Pulau Bali tidak hanya dianugerahi panorama alam yang indah, tetapi juga tradisi unik. Ini merupakan salah satu alasan mengapa pulau berjuluk 1.000 Pura itu selalu kebanjiran turis baik mancanegara dan domestik.

Salah satu tradisi unik tersebut adalah “Omed-omedan” yang dilakukan usai perayaan Nyepi. Dalam Bahasa Bali “Omed-Omedan” bermakna tarik-menarik. Penglingsir Banjar Kaja Jro Wayan Sunarya mengatakan Omed-omedan diwarisi sejak abad ke-17.

"Dahulu tujuan Omed-omedan dimaknai sebagai perayaan kegembiraan anak-anak muda setelah panen sebagai ungkapan syukur dan rasa persaudaraan," katanya

Peserta Omed-omedan berstatus lajang dan paling muda berusia 17 tahun. Tradisi itu hanya ada di Banjar Kaja, Desa Sesetan. Maka tak heran jika Omed-omedan menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

Tradisi itu dimulai dengan pementasan tarian Barong Bangkung. Para remaja Sekaa Teruna Satya Dharma Kerti kemudian melakukan persembahyangan bersama di Pura.

Setelah sembahyang, barisan laki-laki dan perempuan dipisah. Masing-masing di antara mereka diangkat, kemudian dihadap-hadapkan.

Kemeriahan semakin terasa ketika muda-mudi saling bertabrakan kemudian disiram air. Reaksi mereka pun berbeda-beda, ada yang sekedar memeluk dan ada juga yang mencium pipi.

"Itu spontanitas. Kami tegas mengatakan ini tradisi positif, bukan porno atau ciuman massal," tutur Sunarya.

Menurut dia, jika ada yang mencium bahkan sampai berciuman itu sebagai ekspresi kegembiraan para muda-mudi di Banjar Kaja, Desa Sesetan.

"Tetap ada batasannya, jadi bukan nafsu. Mereka berpelukan untuk merasakan kegembiraan. Kalau zaman dulu hanya tarik-menarik saja," ujarnya.

Bisa berjodoh

Sunarya tak menampik tidak sedikit yang bertemu saat Omed-omedan kemudian berjodoh.

"Saya dulu begitu pandangan saya sebelumnya tidak minat. Setelah Omed-omedan saya ingat terus dengan dia (istri)," katanya.

Sunarya menceritakan saat itu pada 1972, dia berhadap-hadapan dengan Ni Putu Yarmiati yang kini menjadi istrinya ketika Omed-omedan. Dari pertemuan itu, akhirnya ia menikah tahun 1978.

Sementara, peserta Omed-omedan yang ditemui Rappler terlihat bahagia. Komang Agus Pradnyana Putra (23 tahun) terlihat basah kuyup seusai Omed-omedan. Walaupun masih tampak lelah, namun raut wajahnya tetap gembira.

"Ini dipilih acak. Kami semua di sini berpelukan sebagai persaudaraan," katanya.

Peserta lainnya, Putu Diah Ariastuti Sanjiwangi (21 tahun) mengaku tidak merasa canggung saat berpelukan dengan temannya. Dia juga memaknai Omed-omedan ini sebagai tradisi persaudaraan bersama teman-temannya di Banjar Kaja.

Namun, jumlah penonton yang semakin membludak sempat membuat dia agak tegang ketika mengikuti tradisi Omed-omedan.

"Memang deg-degan karena banyak orang. Tapi saya enggak malu, karena bersama teman-teman," tuturnya.

Tidak ada komentar