Breaking News

Dua Parpol Inginkan Abraham Samad


Kehadiran mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), mendapatkan sambutan dari kalangan mahasiswa. Dua kegiatan seminar yang digelar di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah dan Universitas Sriwijaya (Unsri) pun dipadati mahasiswa pada akhir pekan kemarin.

Abraham mengklaim bahwa dua partai politik sudah menghubunginya, bahkan di antaranya siap mendeklarasikannya. Tanpa menyebut nama partai dan deklarasi sebagai apa, Abraham berkali-kali mengatakan siap jika memang nantinya warga negara Indonesia menginginkannya berkiprah di dunia politik.

"Sudah ada [partai] yang mengontak, tapi saya masih menimbang dinamika politik saat ini," ujarnya dalam temu jurnalis Palembang, Sumsel, Sabtu malam (21/4).

Meski menolak menyebut nama partai dan warna identik dari pihak partai yang menghubungi, Abraham memastikan jika dua partai itu berbeda pandangan. Satu di antaranya memang partai pendukung pemerintah dan partai lainya merupakan partai oposisi.

"Ada kewajiban konstitusional jika memang masyarakat menginginkan, namun sekali lagi, masih saya analisa semua tentang langkah saya berpolitik," ujar Abraham dengan logat khasnya.

Sedangkan soal kehadirannya di beberapa seminar di sejumlah kampus, Abraham mengaku hanya mengajak pemuda Indonesia untuk kembali berintegritas pada bangsa dan negara. Kehadirannya guna menyebarkan virus-virus antikorupsi agar pemuda dan mahasiswa memiliki akhlak untuk berani memerangi kejahatan luar biasa itu.

"Tujuan saya ingin menyehatkan, mengajak berintegritas, mencintai Indonesia, dan mewariskan nilai-nilai kejujuran pada generasi muda," katanya.

Dalam jumpa dengan jurnalis itu, Abraham banyak menjabarkan pandangannya bagaimana membangun negara, di antaranya Indonesia harus menciptakan nasional "interest" yang merupakan arah dan landasan pembangunan bangsa.

Menurutnya, ada empat hal pokok yang perlu dikuasai negara agar menjadi bangsa yang berdaulat, yakni kemandirian pangan, kesehatan-pendidikan, pengelolaan sumber daya alam, dan kebijakan pajak yang perlu ditata ulang.

"Misalnya saja di Amerika yang sangat menjaga kekuatan pangan seperti gandum. Di Indonesia, juga harus demikian. Nasional 'Interest' yang harus dibangun," ujarnya.

Meski menyatakan terdapat partai yang menawarkan deklarasi, Abraham tetap juga melontarkan kritikkannya pada sistem partai di Indonesia. Pendiri ACC di Sulawesi Selatan (Sulsel) itu menyatakan, terdapat dua hal yang tidak dimiliki oleh partai di Indonesia.

Hal ini, lanjut Abraham, menyebabkan partai dibangun tanpa dukungan integritas yang kuat dari pendukungnya. Dua hal tersebut yakni tidak adanya kode etik yang mengatur bagaimana tahapan seorang kader (pendukung) dapat duduk atau dipercaya pada suatu jabatan.

"Beberapa kader yang dipaksakan [instans]. Mereka tidak melalui terpaan pendidikan partai yang kuat, karena itu lahir mahar-mahar politik mengakibatkan partai terkesan mudah dibeli dan lainnya," ujar dia.

Selain itu, partai di Indonesia tidak memiliki kredibilitas mengenai akuntabilitas keuangan internal partai. Sangat jarang partai akan bersedia diaudit oleh pihak eksternal bagaimana keuangan partai dikelola dan menghasilkan kader dan kegiatan partai yang transparan.

"Sistem partai seperti ini berbeda dibandingkan Amerika. Di sana [Amerika] memang ada dinasti politik, namun dibangun atas praktik pendidikan yang lama. Kader-kader dibangun atas kesadaran berpolitik yang transparan dan akuntabel," kata Abraham.

Tidak ada komentar