Breaking News

Ketua PPP : Jokowi Nyaris Berpasangan dengan Prabowo


Ketua Umum PPP, Romahurmuziy, mengungkapkan utusan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menemui Joko Widodo pada Selasa (27/3). Utusan Prabowo itu menanyakan kemungkinan Prabowo menjadi calon wakil presiden dari Joko Widodo.

"Pak Jokowi kemudian menyampaikan hari Selasa kemarin, pak Prabowo masih mengirimkan utusan untuk menanyakan kemungkinan menjadi wapres," kata Romi di Hotel Patrajasa, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/4).

Romi menanyakan kepada Jokowi soal permintaan tersebut. Jokowi, kata Romi, mengaku tidak bisa memberikan jawaban dan harus meminta persetujuan pimpinan partai-partai pendukungnya.

"Jadi saya hanya bisa mengatakan beri waktu. Ternyata pak Prabowo menginginkan jawabannya segera. Sehingga memang waktu itu sampai hari ini belum ada," ujarnya.

Sebelum pertemuan terakhir, Prabowo ternyata pernah dua kali bertemu Jokowi pada November 2017 lalu. Dalam pertemuan itu, kata Romi, Prabowo juga sempat meminta untuk bersanding sebagai calon wakil presiden Joko Widodo.

"Dan pada saat itu Pak Prabowo saat itu menyampaikan dalam pertemuan terakhir di bulan November itu. 'Saya merasa sangat terhormat di akhir perjuangan saya bisa dipinang sebagai wakil presiden'," ungkapnya.

Romi mengaku tidak tahu pihak mana yang menginisiasi gagasan tersebut, apakah Jokowi atau Prabowo. Namun Romi yakin, Jokowi yang menggagas pertemuan tersebut.

Jokowi menanyakan kepada Romi soal rencana menggandeng Prabowo sebagai cawapres Pilpres 2019 mendatang. Saat itu, Romy langsung mengatakan setuju. Padahal, semua pimpinan partai pendukung Jokowi tak ada yang setuju dengan rencana tersebut.

"Saya langsung bilang setuju," tegas Romi.

Romi mengungkapkan alasan dirinya setuju duet Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019. Pertama bergabungnya Jokowi-Prabowo akan terjadi aklamasi nasional. Kedua, untuk menjaga keutuhan bangsa.

Sebab berkaca pada pertarungan antara Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2014, rakyat Indonesia terbagi menjadi dua kubu yang saling berkelahi dan mencaci maki. Kondisi itu terjadi dalam waktu lama.

Alasan selanjutnya adalah memberikan pendidikan bahwa seorang pemimpin itu tidak harus saling menjatuhkan tetapi bisa juga saling membutuhkan.

"Karena semua survei kaau jokowi prabowo bersatu maka di atas 70 persen," tuturnya.

Tidak ada komentar