Breaking News

Pulau Rote, Keindahan dan Kisah Penyelundupan Manusia


Rote, pulau paling selatan Indonesia ini meyimpan kisah pelik. Kisah tentang penyelundupan manusia.

Puluhan anak-anak menyambut kedatangan saya dan Tim Jelajah Sekolah Nasima saat tiba di Kampung Nelayan Papela, Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur. Mereka adalah Rois, Fraky, Arman dan teman-teman sebayanya tampak senang ketika kami datang.

Sikapnya malu-malu seolah ingin berkenalan. Beruntung kami membawa banyak penganan kecil sebagai media berkenalan. Sejurus kemudian aneka penganan tersebut telah berpindah dari satu tangan ke tangan lain secara merata. Kami kemudian menjadi akrab.

Kami baru kali pertama itu datang ke Papela. Ini sebenatnya sebuah perjalanan tidak terencana. Tetapi sungguh spesial jadinya. Awalnya kami hanya ingin membuang sepi. Pesawat kami mendarat paling pagi.

Pukul 07.10 sudah sampai di Bandara DC Saudale Rote Ndao. Untuk membuang sepi, kami kemudian berkeliling Ba'a, menyusuri pantai utara Rote, Pelabuhan Pantai Baru dan sampailah ke Papela, Rote Timur.

Dari Bandara, perjalanan ke Papela memakan waktu sekira 1,5 jam. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Sepanjang jalur yang kami lalui pemandangannya sangat menyejukkan mata. Tanaman perdu tumbuh dengan subur di pinggir jalan. Sawah-sawah, rerumputan dan sabana tampak segar menghijau.

Hujan yang turun di bulan Desember cukup membuat alam Pulau Rote tampak segar nan hijau. Namun saat menikmati perjalanan, Anda harus hati-hati, pasalnya tanpa Anda sadari sekawanan sapi, kambing bahkan babi sering tiba-tiba muncul menyeberang jalan. Anda harus mengalah memberi jalan kepada hewan-hewan piaraan tersebut. Kalau tidak bisa jadi hari yang buruk di Rote.

Tidak ada komentar