Breaking News

Ini dia Pesan Gubernur Kal-Sel H.Sahbirin Noor jelang Hari Pangan Dunia



Pemerintah kini sedang berusaha meningkatkan produksi beras dalam negeri. Caranya, membuka lahan persawahan dengan memanfaatkan lahan tidak produktif menjadi lahan produktif.


Kementerian Pertanian memilih Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), sebagai optimasi lahan suboptimal Rawa Lebak. Penggarapan program cetak sawah baru di lahan rawa dengan target 750 hektar, juga telah ditopang oleh jaringan irigasi sepanjang 1 kilometer lebih.

Lokasi yang dicanangkan pemerintah pusat untuk jaringan irigasi guna keperluan optimasi lahan rawa lebak agar menjadi sawah produktif. Untuk pengembangan lahan rawa lebak di Desa Jejangkit Muara ini

Kementerian Pertanian menyumbangkan sejumlah ekskavator untuk memperlancar program tersebut.
Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor mengatakan, Kalsel akan menjadi lumbung padi nasional, dan kita ingin Indonesia tidak lagi membeli beras dari luar negeri.

“Jika kita swasembada beras tidak ada lagi biaya transportasi,dan calo beras impor,” ujar Sahbirin di depan awak media jelang Hari Pangan Dunia, di Rumah Dinas Gubernur, Kamis malam (11/10).

Sementara, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Pending Dadih Permana mengatakan, zero hunger tahun 2030 itu hal yang tidak mungkin, makanya Indonesia mengambil tema sesuai dengan potesi yang kita miliki. Dan Indonesia itu negera agraris dengan iklim yang sepanjang tahun bisa berbudidaya dan ini menjadi kekuatan.

Total lahan suboptimal rawa lebak pasang pasang surut sekitar hampir 34 juta hektare. Dari hasil kajian Balai Besar Litbang SDM Lahan Pertanian dari 34 juta itu sekitar 9,3 juta punya potensi untuk dikembangkan sebagai basis budidaya.

“Alih fungsi lahan sangat banyak terjadi kalau kita biarkan maka akan kehilangan basis produksi. Untuk itu Kalimantan, Sumatera dan Papua memiliki potensiyang besar sekali,” ujarnya.

Lanjutnya, sehingga tema kita ini ingin action momentum Hari Pangan digunakan untuk melakukan optimasi lahan pasang surut sebagai basis produksi kita.

Sebagai gabaran bahwa lahan rawa existing berbudidaya tergantung pada alam. Pada saat air masih tinggi tentu tidak bisa bercocok tanam, menunggu sampai surut.

“Ini sampai memakan 6-7 bulan baru bisa surut, jadi hanya tinggal 4 bulan saja. Nah dengan teknologi yang kita kembangkan Kementan, Dirjen PSP untuk melakukan tugas ini. Maka kita coba kendalikan tata air di daerah rawa,” jelas Pending.

Tidak ada komentar