Breaking News

Rencana Besar Jokowi Tentang Ekonomi di Beberkan Istana



Jakarta - Pertumbuhan ekonomi nasional selalu berada di level 5% atau masih jauh dari target pemerintah dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2015-2019 sebesar 7%. Pihak istana buka suara menanggapi target ekonomi 7% Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) yang tak tercapai.

Menurut Staf Ahli Presiden bidang Ekonomi Ahmad Erani Mustika realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5% tergolong baik di tengah ketidakpastian global. Erani mengatakan dengan mitigasi kebijakan yang memadai pada 2016 terjadi titik balik ketika pertumbuhan ekonomi naik menjadi 5,03%.

"Pada tahun itu 'kutukan pertumbuhan ekonomi yang makin menurun' bisa dihentikan (sejak 2011). Berikutnya, pada 2017 naik tipis menjadi 5,07% dan diproyeksikan pada 2018 ini pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2%," kata Erani saat dihubungi detikFinance, Sabtu (20/10/2018).

Pada saat yang sama, pemerintah juga mampu menekan inflasi di bawah 4% selama 3 tahun berturut-turut (2015-2017), yakni 3,35%, 3,02%, dan 3,61%. Pada 2018 diperkirakan juga hanya 3%.

"Ini sejarah baru di mana pemerintah bisa mengelola stablitas harga yang selama ini sulit dilakukan," ungkap dia.

Secara umum, lanjut Erani, terdapat lima agenda besar ekonomi yang disasar pemerintah selama 4 tahun ini. Pertama, menjaga stabilitas makroekonomi untuk memperbaiki kualitas pembangunan seperti kemiskinan, pengangguran, inflasi, investasi, dan lain-lain.

Kedua, mengarusutamakan agenda keadilan ekonomi yang sebelum ini rumit untuk dieksekusi (mengurangi ketimpangan). Ketiga, mempersiapkan dasar-dasar pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Keempat, membangun kemandirian ekonomi yang tertunda begitu lama. Kelima, memperkuat tata kelola pembangunan untuk memastikan efisiensi dan efektivitas dapat dipenuhi.

Menurut Erani, pertumbuhan ekonomi yang membaik itu dibarengi kualitas yang mengesankan karena sejak 2004 untuk pertama kalinya pertumbuhan ekonomi yang meningkat diiringi dengan penurunan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sekaligus.

Pertumbuhan ekonomi diiringi dengan pengurangan ketimpangan pendapatan, yang sejak 2004 terus meningkat. Rasio gini sebagai alat ukur ketimpangan pendapatan tercatat pada 2013 dan 2014 merupakan puncak ketimpangan sebesar 0,41.

Setelah masa itu ketimpangan terus turun hingga pada Maret 2018 menjadi 0,38. Oleh karena itu, agenda aksi keadilan ekonomi sudah menghasilkan capaian yang bagus dalam 4 tahun terakhir.

Tidak ada komentar