Breaking News

TKN Jokowi-Ma'ruf Sebut Amien Rais Cuma Andalkan Ilmu Suudzon Soal Mafia Kuasai RI



Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menilai penguasa sejati di Republik ini layaknya kaum mafia. Amien juga memaparkan empat macam mafia menurut versinya.

Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Syadzily mengatakan Amien kembali membuat pernyataan tanpa data dan penuh dengan teori konspirasi.

"Tanpa dasar-dasar ilmu ekonomi yang memadai, Amien Rais hanya mengandalkan ilmu suudzon dengan menyebutkan mafia terjadi mulai dari kabupaten sampai nasional. Baginya negara kita seperti negeri para mafioso," ucap Ace di Jakarta, Selasa (29/1).

Dia menegaskan, jika selama ini, negeri penuh mafia, maka jangan-jangan Amien Rais pernah berada di zona nyaman serta menjadi patron politik dari para mafia itu, mulai dari mafia impor migas sampai degan mafia perizinan hutan.

"Bukankah mafia-mafia itu sudah lama ada sejak Orde Baru bahkan ketika Amien Rais masih dalam kekuasan. Setelah tidak berkuasa lagi, baru Amien Rais teriak-teriak tentang mafia. Itu sama saja menepuk air di dulang tepercik muka sendiri," ungkap Ace.

Politisi Golkar ini memandang selama 4 tahun ini, Jokowi berani untuk memberantas mafia dan pemburu rente. Pertama, pada tahun 2015, Jokowi dengan enteng membubarkan Petral, walaupun wacana pembubarannya sudah muncul sejak tahun 2006. Setelah itu Jokowi melakukan reformasi regulasi dan tata kelola Migas secara lebih transparan.

"Kedua pada tahun 2017, Pak Jokowi juga membentuk Satgas Pangan yang juga melakukan penegakan hukum terhadap kartel dan mafia pangan. Ketiga, Pak Jokowi juga melakukan evaluasi terhadap jutaan hektare hutan yang izinnya banyak dikeluarkan sebelum pemerintahan Pak Jokowi.

Praktik pemberian izin hutan secara ugal-ugalan justru diindikasikan dikeluarkan saat otoritas dipegang oleh orang yang dekat dengan Amien Rais," jelas Ace.

Agar tidak terjadi lagi praktik ugal-ugalan semacam itu, menurut dia, Jokowi mempercepat kebijakan satu peta. Sementara, menghadapi pemburu rente dan mafia perizinan, Jokowi melakukan reformasi besar-besaran dalam proses perizinan dengan menerapkan model Online Single Submision untuk pencegah praktik kong kalikong dalam pemberian perizinan.

"Reformasi perizinan ini membuahkan naiknya peringkat investasi dan kemudahan berusaha," jelasnya.

Soal Impor

Unfuk masalah impor, masih kata dia, Amien Rais harus banyak baca buku tentang ketahanan pangan. Menurutnya, terdapat 3 pilar penting dalam ketahanan pangan yaitu; keterjangkauan atau kemampuan masyarakat untuk membeli pangan, ketersediaan pangan baik dari produksi dalam negeri maupun impor, dan kualitas dan keamanan pangan.

"Impor bukankah tujuan tapi harus dilihat dalam tiga pilar itu," tuturnya.

Untuk Indeks ketahanan pangan Indonesia dalam 4 tahun ini, masih kata dia, terus mengalami perbaikan. Sebagai catatan 2014 Indonesia berada di posisi 72 dari 113 negara kemudian pada tahun 2018 menjadi posisi 65. Bahkan ini lebih baik dari Sri Lanka, Filipina, Myanmar, Kamboja, Laos.

"Ketahanan pangan jelas dibutuhkan untuk melindungi kepentingan sebagian besar rakyat yang menjadi konsumen termasuk masyarakat miskin, dan buruh tani yang membeli bahan pangan. Tapi, ini bukan berarti Pak Jokowi mengabaikan kepentingan petani, untuk meningkatkan produksi. Pembangunan infraktruktur pertanian berjalan sangat baik," kata Ace.

Dia juga menjelaskan pembangunan waduk/bendungan sebanyak 65 hingga tahun 2019 kemungkinan besar akan terpenuhi yang sebagian merupakan lanjutan dari pemerintah sebelumnya. Terdapat 49 waduk/bendungan yang telah selesai dibangun, sedang dalam konstruksi atau dalam proses kontrak hingga tahun 2019.

Sebanyak 29 bendungan ditargetkan selesai pada tahun 2019, sebanyak 55 persen berada di Luar Jawa dan 45 persen di Jawa-Bali.

"Diharapkan pembangunan infrastruktur tersebut berdampak signifikan terhadap peningkatan produksi pertanian di masa yang akan datang. Selain itu, Pak Jokowi juga membuat kebijakan dan terobosan agar harga di tingkat petani tidak jatuh karena mekanisme pasar," katanya.

Sebelumnya, Amien Rais menilai penguasa sejati di Republik ini layaknya kaum mafia. Amien juga memaparkan empat macam mafia menurut versinya.

"Saya mulai berani menyimpulkan bahwa penguasa sejati dari republik kita ini, itu sampai batas sangat jauh adalah kaum mafia. Saya petakan ada empat macam mafia," kata Amien.

Pertama adalah mafia ecek-ecek. Amien mengatakan, mafia tersebut biasanya berada di tingkat kecamatan sampai kabupaten.

"Ini ada di pasar, ada di pabrik-pabrik, ada di parkiran dan lain-lain. Jadi daya rusaknya mafia ecek-ecek ini tidak begitu besar buat bangsa dan negara," ucap Amien.

Kedua adalah mafia kelas menengah yang ada di berbagai provinsi. Amien melihat mafia tersebut mempunyai jaringan untuk memaksakan kehendaknya dengan cara menekan para pejabat penting di level provinsi atau gubernur.

"Ketiga, mafia berskala nasional. Ini sudah enggak ketulungan. Apa yang enggak diterabas mafia ini. Ada garam, beras, daging, cabai, kedelai, segala macam. Para mafia ini membentuk kartel-kartel yang sesungguhnya mereka yang menentukan jalannya ekonomi nasional," lanjutnya.

Menurut Amien, mafia nasional tersebut tidak bisa langgeng atau eksis tanpa kerja sama dengan kekuasaan.

"Pasti mafia apapun ada kedekatan dengan menteri ini, menteri itu, jenderal ini, jenderal itu. Ini saya kira sebuah rahasia umum, bukan rahasia baru," ujar Amien.

Yang keempat adalah super mafia. Tipe ini, kata Amien, adalah konglomerat internasional dan korporasi internasional yang mendesak kemauannya ke berbagai bangsa dengan cara persis mafia. Contohnya, membuat laporan palsu dan membantu pemilu sehingga prinsip adil, jujur, bebas tercederai.

"Kita tahu korporasi besar itu sesungguhnya super mafia. Mereka ini berkolusi dengan super mafia di negeri ini. Paling kuat dengan penguasa-penguasa tinggi dan tertinggi. Argumen saya, ada korelasi positif antara kekuasaan dengan korupsi. Semakin besar kekuasaan semakin tinggi korupsinya," ujar Amien.

Mantan Ketua MPR itu menambahkan, korupsi yang dahsyat berada di kekuasaan atau sekitar kekuasaan.

"Saya meramalkan kalau rezim ini ganti, insyaallah pejabat tinggi dan tertinggi akan kelihatan mereka supermafia," tambahnya.

Sumber : Merdeka.com

Tidak ada komentar